Athba.net | Sejak awal sejarah manusia kapal hanya terbuat dari kayu, namun seiring penemuan bahan baja, pembuatan kapalpun beralih ke bahan yang lebih kuat itu. Tapi tahukah anda ketika terjadi perang dunia pertama maupun perang dunia ke dua bahan baja sangat langka dan mahal, karena itu bahan pembuatan kapal berinovasi dengan bahan ferrocement (ferro=besi dan cement=semen). melansir dari laman amusingplanet Ada cerita bahwa jauh sebelum perang dunia berkecamuk,  pada tahun 1848 Joseph-Louis Lambot, menciptakan perahu kecil dari bahan beton bertulang besi atau ferrocement.

http://www.athba.net/

Seperti diduga, beton bukan bahan yang cocok untuk membangun sebuah kapal. Masalah paling mendasar dengan kapal beton adalah kapal memerlukan lambung yang sangat tebal hingga kekuatannya menyamai kapal berbahan baja. Hal ini membuat kapal sangat berat dan akibatnya di butuhkan bahan bakar yang lebih banyak untuk menggerakkan kapal. Dan karena terbuat dari beton, jika lambung kapal mengalami kerusakan, maka kapal akan lebih cepat tenggelam karena beban berat kapal tersebut. Para prajurit dari Perang Dunia I sering menyebut mereka "batu nisan mengambang".

Namun demikian, pembuatan kapal ferrocement terus dilakukan dan ukuran mereka semakin membesar secara bertahap. Yang terbesar adalah kapal SS Selma dengan ukuran 425 kaki (141,6 M), sebuah kapal tanker minyak yang diluncurkan pada tahun 1919. Reruntuhan kapal SS Selma masih terlihat hingga Hari ini di Galveston Bay di Pantai Teluk Texas.

Baca juga: Minatur desa tertua

Ketika Amerika Serikat terlibat Perang Dunia Pertama, Presiden Woodrow Wilson memerintahkan pembangunan 24 kapal beton sebagai kapal dukungan kepada Angkatan Laut. Namun, tidak satupun dari kapal-kapal itu selesai tepat waktu dan di gunakan berperang. Pada saat kapal selesai di bangun, itupun hanya 12 dari 24 kapal yang di rencanakan perang telah berakhir. Sehingga kapal yang sudah selesai dijual kepada perusahaan swasta dan digunakan untuk perdagangan minyak serta penyimpanan.



Ketika perang berakhir, baja kembali di produksi dan kapal-kapal berbahan baja yang lebih efisien kembali di produksi. Bagaimana nasib kapal-kapal beton? mereka di bebas tugaskan dan diderek ke berbagai pelabuhan, ditenggelamkan atau di biarkan di bibir pantai menjadi pemecah gelombang. Kumpulan kapal beton terbesar ditemukan di Powell River, British Columbia, di mana sepuluh kapal beton di tata membentuk busur yang berfungsi sebagai pemecah ombak.

Baca juga : cafe untuk korban zat acid

Kapal beton lainnya seperti kapal tanker minyak SS Palo Alto ditarik ke Pantai Seacliff di Aptos, California, dan dibuat menjadi sebuah taman hiburan dengan fasilitas termasuk lantai dansa, kolam renang dan kafe. Dua tahun kemudian taman hiburan di tutup karena perusahaan bangkrut. Berikut beberapa gambar kapal-kapal berbahan ferrocement yang teronggok tak berdaya di beberapa pantai.

http://www.athba.net/

Bangkai kapal ferrocement San Pasqual, di lepas pantai Santa Maria, Kuba.

http://www.athba.net/

Kapal ferrocement SS Selma di Seawolf Park Galveston.

http://www.athba.net/

Kapal ferrocement SS Palo Alto di Pantai Seacliff, California.

http://www.athba.net/

Kapal ferrocement SS Palo Alto di Pantai Seacliff, California.

http://www.athba.net/

Pemecah ombak terbuat dari kumpulan kapal ferrocement di Powell River, British Columbia

http://www.athba.net/

Bangkai kapal ferrocement SS Selma di Seawolf Park Galveston.

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke situs www.athba.net. Mari berpartisipasi untuk berbudaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk ajang diskusi, berbagi ilmu dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berkomentar. Jangan berkomentar out of topik. dilarang keras menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. DILARANG KERAS MEMASANG LINK HIDUP DI KOLOM KOMENTAR. Pengunjung yang baik adalah mereka yang selalu meninggalkan jejak komentar di setiap artikel tanpa spam.