Menakjubkan,Ikan Lamprey Penghisap Darah

Lamprey (kadang-kadang disebut belut lamprey) adalah ikan tak bertaring. Lamprey merupakan spesies minoritas. Dalam zoologi, lampreys sering tidak dianggap sebagai ikan sejati karena morfologi dan fisiologinya yang berbeda. tubuh dapat dibedakan atas caput (kepala, truncus (batang tubuh) dan cauda (ekor). bentuk tubuh silinder dengan ekor pipih. tidak memiliki sisik. Diujung kepala arah ventral terdapat bentuk mangkok yang disebut buccal funnel yang tepinya dilengkapi dengan papil-papil lunak dan didalamnya terdapat gigi-gigi zat tanduk. Papil – Papil lunak tadi sebagai alat perasa. Dengan adanya gigi memungkinkan Lamprey melekat dan memarut badan ikan lain. Air ludahnya mengandung bahan kimia yang mampu mencegah pembekuan darah. Insang terdapat di dalam kantong-kantong otot, yang terbuka keluar melalui serangkaian celah yang terdiri dari 7 buah celah kecil di dalam berhubungan dengan sebuah saluran yang bermuara di dalam mulut. memiliki sepasang mata besar yang terdapat sebelah lateral. Sepanjang latero-median terdapat saluran yang berisi indra peraba, dimana saluran ini memanjang sampai ekor.

























7 Pidato Inspiratif Para Orator Ternama

Tags
Athba.net | Banyak orator ulung yang ada dari waktu ke waktu. Dari zaman kuno ke Lincoln dan Roosevelt.
Ada banyak kriteria yang dapat digunakan untuk menilai kebesaran pidato tergantung konteks dan situasi saat itu,dan dampak yang di timbulkan oleh pidato itu. Tapi yang paling penting, itu adalah keterampilan pidato dari pembicara yang dapat mengubah pidato yang tampaknya biasa menjadi satu yang menarik dan menanamkan dalam halaman sejarah. Jadi tanpa banyak basa-basi, mari kita memulai ke beberapa pidato terbesar yang pernah dibuat dalam sejarah umat manusia.

1. “The Gettysburg address” oleh Abraham Lincoln

      
http://www.athba.net/

Singkat namun berdampak, ada sangat sedikit dan hampir tidak ada orang Amerika yang belum membaca pidato terkenal  ini oleh Lincoln. Bahkan alamat Gettysburg lebih terkenal jika dibandingkan "pidato pelantikan kedua"Lincoln. Anda harus menyadari hal itu. pernyataan bahwa "semua manusia diciptakan sama" tertangkap pada imajinasi dari orang-orang dan masih banyak dikutip dalam setiap pidato lain. Setiap kali orang berbicara tentang Perang Saudara Amerika, mereka akan mengingat alamat Gettysburg. Tidak heran Lincoln dianggap oleh banyak orang sebagai Presiden Amerika terbesar. Kata-kata memang penting sebelum melakukan tindakan.

Matahari Sebagai Navigator Bangsa Viking

Bangsa Viking mungkin telah menjadi pelaut dengan kemampuan navigasi mumpuni, bahkan lebih mengesankan dari yang diperkirakan sebelumnya.

jam matahariIlustrasi jam matahari
Bangsa Viking terkenal dengan kemampuan berlayarnya mengarungi laut lepas dengan menggunakan kapal. Yang masih menjadi misteri, bagaimana manusia pada zaman itu mampu menavigasikan kapal mereka, sementara teknologi canggih belum ditemukan kala itu.

Penelitian terbaru mengungkapkan ternyata bangsa Viking berlayar menggunakan kompas matahari, melintasi Atlantik. Penelitian yang dipublikasaikan dalam Journal Proceedings of the Royal Society A Mathematical and Physical Sciences menulis bahwa bangsa Viking mungkin telah menjadi pelaut dengan kemampuan navigasi mumpuni bahkan lebih mengesankan dari apa yang diperkirakan sebelumnya.

"Memang telah diketahui bangsa Viking adalah pelaut yang sangat baik. Namun, tampaknya mereka telah menggunakan instrumen navigasi yang lebih baik dari yang kita duga sebelumnya," kata Balazs Bernath, penulis studi yang juga peneliti di Universitas Eotvos di Hungaria.

Mengetahui secara persis bagaimana bangsa Viking melakukan navigasi di laut lepas memang selalu menjadi topik spekulasi dan legenda. Selama ini ilmuwan menduga Viking menggunakan kompas matahari yang rumit untuk menentukan dengan tepat arah utara dan mengandalkan kristal ajaib untuk membantu navigasi mereka saat cuaca berawan.

Alat navigasi bangsa Viking tersebut mulai terkuak saat arkeolog menemukan artefak kayu misterius di bawah reruntuhan biara Benedictine, Greenland. Artefak kayu yang berbentuk setengah lingkaran memiliki lubang di tengahnya dan pola zigzag terukir di sekelilingnya.

Para ilmuwan yang meneliti saat ini sedang bertanya-tanya sepertinya kompas matahari tersebut lebih canggih dari fungsi utamanya yang hanya untuk menentukan garis lintang ataupun sekedar menentukan belahan bumi utara dan selatan dunia.
jam matahariIlustrasi jam matahari (thinkstokcphoto)

"Viking berlayar dengan menggunakan garis lintang, yang artinya mereka melintasi lautan lepas sepanjang jalur lintang yang telah dipilih. Misalnya, mereka berlayar secara rutin sejauh 2.500 kilometer sepanjang 61 garis lintang dari Norwegia menuju Greenland dan kembali lagi. Untuk melakukan hal tersebut diperlukan kompas yang bagus dan perlu melakukan pengecekan secara rutin, lintang yang sedang dilalui," kata Bernath.

Namun, angin dan arus laut dapat dengan mudah mengalihkan kapal kecil yang mereka tumpangi, memaksa para pelaut viking untuk sesering mungkin mengecek lintang mereka agar tetap berada di jalur yang tepat.

Bangsa Viking berlayar di sekitar Lingkaran Artik, di mana matahari tidak pernah terbenam saat musim panas. Sehingga mereka menavigasikan kapal dengan mengandalkan Matahari, bukan bintang.

Para peneliti mengungkapkan, setiap harinya pada saat siang ketika matahari berada pada posisi tertingggi di langit, lempeng yang berada di tengah kompas akan melemparkan bayangan di antara dua garis pada lempengan (piring). Para pelaut kuno Viking dapat mengukur bayangan pada siang hari dengan menggunakan garis skala pada dial kemudian menentukan garis lintang.

Menyandarkan Hidup pada Batu Bukit Samba

Bagaimana masyarakat di dekat pusat peradaban Ende, Flores menggantungkan harapan yang berisiko tinggi pada keselamatan diri.

penambang,ende,floresYoris (39) warga Desa Samba beristirahat sejenak sebelum melanjutkan aktivitas penambangan pasir dan batu di Bukit Samba, Ende, Flores, NTT. Meski dilarang pemerintah, penambang batu dan pasir menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian warga Desa Samba.

Yohanes Raki, laki-laki separuh baya itu tidak berhenti menghisap rokok sembari tangannya menggerakkan palu memecahkan batu menjadi pecahan-pecahan kecil. Raki bersama tetangga-tetangganya di kampung Samba setiap hari menghabiskan sebagian besar waktunya di antara bebatuan gunung bukit Samba.

Bukit batu yang berada di jalur jalan menuju desa-desa di kawasan Ndetundora itu menjadi lahan mata pencaharian sebagian besar penduduk dusun Samba dan Mbomba. Di tempat ini mereka melakukan penambangan batu secara tradisional dengan peralatan seadanya yang tidak memenuhi syarat keselamatan kerja.

Saya mendapat kesempatan untuk mengenal lebih dekat para penambang batu tradisional di Bukit Samba beberapa waktu lalu. Tambang batu bukit Samba letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Ende, kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Jarkanya, sekitar delapan kilometer.
ende,tambang pasir,desa sambaBukit Samba, yang letaknya sekitar delapan kilometer dari pusat kota Kabupaten Ende, menjadi harapan hidup bagi warga sekitarnya 


Dari lokasi ini dihasilkan material batu dan pasir berbagai ukuran sebagai bahan bangunan. Ada belasan orang laki-laki dan perempuan yang menjadi penambang di tempat ini. Mereka mulai beraktivitas sejak pukul 05.30 - 18.00. Waktu istirahatnya, pada pukul 12.00 – 14.00 siang.

Para lelaki menggali batu dari bukit dengan linggis, selanjutnya batu-batu yang digali tersebut dikumpulkan berdasarkan ukurannya. Jika mendapatkan batu besar yang tidak sanggup dipindahkan mereka akan membiarkannya, sedangkan batu sedang yang dapat dipindahkan mereka ambil dan selanjutnya akan dipecahkan menjadi bongkahan batu kerikil dengan ukuran bervariasi (sirtu dan kerikil).

Pekerjaan memecahkan batu itu menjadi bagian pekerjaan para perempuan. Selain batu, mereka juga mengumpulkan pasir untuk dijual.

Batu-batu yang sudah dipecahkan menjadi kerikil dengan berbagai ukuran tersebut selanjutnya dikumpulkan di pinggir jalan dan siap dijual. Sistem penjualan dan pembelian di tempat ini tidak melalui perantara. Pembeli yang akan membeli batu untuk fondasi, kerikil, sirtu, pasir bahkan batu ukuran besar akan langsung bertemu dengan petani batu tersebut. Selanjutnya mereka melakukan tawar menawar dan bertransaksi di tempat.

Harga kerikil dan batu hasil tambang para petani batu di bukit Samba ini bervariasi, untuk sirtu atau split dijual Rp. 500.000/truk. Sedangkan kerikil bervariasi antara Rp. 300.000 – Rp. 600.000 per truk. Mereka juga menjual pasir seharga Rp. 100.000 per truk. Sedangkan untuk satu unit mobil bak terbuka berkisar antara Rp. 250.000 – Rp. 300.000 per unit.

Harga tersebut yang belum sepadan dengan kerja keras mereka, apalagi tidak setiap hari ada konsumen yang datang membeli. Kadang bahkan sampai 3 minggu tumpukan kerikil dan pasir mereka tidak terjual.
ende,tambang pasir,desa sambaKaum perempuan bertugas memecah batu menjadi ukuran yang lebih kecil. Tak ada prosedur keselamatan diri dan lingkungan di tempat ini 


Raki sepenuhnya mengandalkan hasil dari menambang batu ini untuk menghidupi keluarganya karena ketiadaan lahan garapan pertanian dan keahlian lainnya. Sudah 20 tahun dia mengais rezeki di bukit batu ini, sejak masa remaja hingga berkeluarga dan memiliki anak.

Bahkan dia juga mengajak istrinya, Katarina untuk menjadi penambangan batu tradisional. Ini semua dilakukan untuk menghasilkan rupiah demi rupianh guna menyambung hidup dan membiayai pendidikan anaknya.

Bukit batu Samba, di tengah kebisuan dan gersangnya telah menjadi tumpuan hidup banyak orang untuk mengais rezeki demi menyambung hidup. Disadari atau tidak nyawa para penambang batu menjadi taruhan.Menurut Katarina, mereka tidak punya pilihan lain, sekalipun resiko pekerjaan ini cukup berbahaya. Saya sempat memperhatikan suaminya dengan peralatan seadanya seperti linggis yang tidak aman untuk menggali batu yang menempel di bukit. Tidak bisa dibayangkan seandainya batu-batu tersebut jatuh dan menimpa suami Katarina ini.

Batu-batu yang ribuan tahun menyusun bukit ini, di tangan manusia-manusia sederhana ini disulap menjadi material siap pakai untuk membangun rumah dan gedung di kota Ende. Bahkan banyak juga konsumen yang berasal dari Mbay, Maurole hingga Maukaro.

Tidak bisa diprediksi sampai kapan aktivitas menambang batu secara tradisional ini berlangsung, karena ditengah kebisuan dan bunyi palu yang beradu dengan batu ada harapan akan hidup yang lebih baik digantung disana. Dil ain pihak banyak gedung berdiri megah karena disusun dan ditopang batu-batu hasil tangan-tangan warga Samba.

Penemuan Makam Kuno Bangsa Wari Di Peru

Tags
Gambar sepasang makhluk bersayap berornamen emas dan perak menghiasi seorang wanita Wari. menunjukkan bahwa wanta berpangkat tinggi suku wari memakai ke kuburnya di makam kekaisaran di El Castillo de Huarmey.tim arkeologi menemukan sisa-sisa 63 orang, termasuk tiga ratu suku wari.

Giersz, seorang arkeolog di Universitas Warsawa di Polandia, langsung menyadari bahwa rekannya tim Polandia-Peru  telah menemukan sebuah "kuil orang mati" berusia 1.200 tahun yang penuh dengan emas berharga dan artefak perak.Karena khawatir penjarah makam akan mencurinya,Jadi Giersz dan Roberto Pimentel Nita dirahasiakan penemuan mereka. Menggali diam-diam selama berbulan-bulan di salah satu ruang pemakaman, para arkeolog mengumpulkan lebih dari seribu artefak, termasuk emas canggih dan perhiasan perak, kapak perunggu, dan alat-alat emas, bersama dengan mayat tiga Wari ratu dan 60 orang lainnya, beberapa di antaranya itu mungkin pengorbanan manusia.
Menteri Kebudayaan peru dan pejabat lain secara resmi akan mengumumkan pada konferensi pers di situs. Krzysztof Makowski Hanula, seorang arkeolog di Universitas Katolik Pontifikal Peru di Lima dan penasihat ilmiah proyek, mengatakan candi yang baru ditemukan orang mati "seperti dewa, seperti mausoleum semua bangsawan Wari di wilayah tersebut."
Kebudayaan yang terlupakan
Bangsawan wari telah lama dibayangi oleh kemajuan suku Inca, yang prestasinya yang luas didokumentasikan oleh penakluk Spanyol. Tapi di abad 8 dan 9 Masehi, Wari membangun sebuah kerajaan yang membentang di Peru. Huari, menjadi salah satu kota besar di dunia. Pada puncaknya, Huari mencapai populasi konservatif diperkirakan sekitar 40.000 orang. sebagai perbandingan, Paris hanya memiliki 25.000 penduduk pada saat itu.
Bagaimana wari menjadi kerajaan yang besar masih jadi mistery. kecanggihan karya seni bangsa wari telah lama menjadi incaran para penjarah harta karun,yang telah merampok sisa-sisa istana kerajaan dan kuil bangsa wari.
Pada bulan Januari 2010, ia dan tim kecil meneliti wilayah menggunakan foto udara dan peralatan pencitraan geofisika. Di punggung bukit antara dua piramida besar , mereka melihat garis samar apa yang tampaknya menjadi sebuah makam bawah tanah.

Perampok Makam sudah lama meninggalkan puing-puing di punggung bukit.Menggali melalui puing-puing September lalu, Giersz dan timnya menemukan ruang upacara kuno dengan tahta batu.Ruang rahasia besar tertutup batu 30 ton. Giersz memutuskan untuk terus menggali. gada kayu ukiran besar. "Itu adalah penanda makam," kata Giersz, "dan kami tahu bahwa kami menemukan makam utama."
Harta Terpendam
mereka menemukan deretan tubuh manusia terkubur dalam posisi duduk dan dibungkus kain sebagai pengawetan. Di tiga ruang sisi kecil, adalah sisa-sisa dari tiga ratu Wari dan banyak barang berharga mereka, termasuk alat tenun yang terbuat dari emas.
Pelayat juga dikebumikan banyak harta lain di ruangan itu: telinga ornamen bertatah emas dan perak, mangkuk perak, kapak perunggu, cangkir minum langka alabaster, pisau, kotak daun koka, keramik  dan benda berharga lainnya. 
 Manik-manik dari batu berharga

 Kain pembungkus dari para pengawal ratu wari dai woll dan kapas yang di awetkan

 Keramik botol ratu wari

 Cangkir dari batu




 terlindungi dari para penjarah oleh lapisan atas yang terdiri dari 30 ton batu, sisa-sisa Wari Ratu berbaring sekitar 1.200 tahun yang lalu. 
artefak Sendok kayu yang berukir makhluk bersayap



Kehidupan Orang-orang Suku Karowai

Suku Korowai adalah suku yang baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu[di pedalaman Papua, Indonesia dan berpopulasi sekitar 3000 orang. Suku terasing ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon yang disebut Rumah Tinggi. Beberapa rumah mereka bahkan bisa mencapai ketinggian sampai 50 meter dari permukaan tanah. Suku Korowai adalah salah satu suku di daratan Papua yang tidak menggunakan koteka.
Sampai tahun 1970, mereka tidak mengetahui keberadaan setiap orang selain kelompok mereka.
Bahasa mereka termasuk dalam keluarga Awyu-Dumut (Papua tenggara) dan merupakan bagian dari filum Trans-Nugini. Sebuah tata bahasa dan kamus telah diproduksi oleh ahli bahasa misionaris Belanda.
Mayoritas klan Korowai tinggal di rumah pohon di wilayah terisolasi mereka. Sejak tahun 1980 sebagian telah pindah ke desa-desa yang baru dibuka dari Yaniruma di tepi Sungai Becking (area Kombai-Korowai), Mu, dan Basman (daerah Korowai-Citak). Pada tahun 1987, desa dibuka di Manggél, di Yafufla(1988), Mabül di tepi Sungai Eilanden (1989), dan Khaiflambolüp (1998). Tingkat absensi desa masih tinggi, karena relatif panjang jarak antara permukiman dan sumber daya makanan (sagu).

Suku Korowai bertetangga langsung dengan suku Asmat yang hidup di utara Kabiur Dairam. Habitatnya dibatasi oleh dua sungai besar dan gunung-gunung di utara. Daerah hidup mereka adalah daerah rawa sekitar 600 km ². Di daerah yang secara normal sulit untuk hidup, ada hingga 2500 anggota Korowai hidup bersama dalam satu kelompok keluarga kecil. Suku Korowai adalah pemburu dan pengepul. Mereka memakan Sagu yang mereka ambil dari pohon Palm. Mereka memenuhi makanan protein utama mereka dari larva kumbang Capricorn. Hewan-hewan buruan mereka seperti babi hutan, burung kasuari, burung, ular, dan serangga kecil. Makanan nabati juga sangat penting bagi mereka. Terutama daun palem, pakis, sukun dan buah pandanae merah.

Sebagian besar orang Korowai adalah pemburu dan mengumpulkan makanan. Keahlian berburu mereka sangat baik dan memiliki keterampilan memancing. Mereka juga suka berkebun dan sekarang bergeser ke arah budidaya. Suku Korowai memiliki pengaturan tugas berdasarkan gender, seperti penyusunan jenis tertentu makanan Sagu dan ritual upacara keagamaan di mana hanya orang dewasa laki-laki yang terlibat. Beberapa Korowai sejak awal 1990-an telah menghasilkan pendapatan tunai dari hasil bekerja sama dengan perusahaan wisata yang mempromosikan wisata tour ke daerah Korowai. Dalam industri pariwisata, peluang penghasilan mereka terbatas seperti saat kelompok wisata di desa melakukan pesta sagu, membawa koper, dan atraksi/tarian traditional.

Sebagian besar keluarga Korowai tinggal di rumah pohon yang mereka bangun sendiri. Struktur kepemimpinan didasarkan pada kualitas laki-laki yang kuat bukan pada institusi. Perang antar klan sering terjadi terutama karena sihir dan konflik terkait ilmu sihir.

Patriclan adalah sistem di mana kendali garis keturunan ditangan ayah seseorang. Termasuk pewarisan harta benda. Dalam masyarakat Korowai bentuk turun ranjang adalah lumrah.

Suku Korowai telah dilaporkan masih mempraktekkan ritual kanibalisme hingga sekarang. Antropolog menduga kanibalisme tidak lagi dilakukan oleh klan Korowai yang sering berhubungan dengan pihak luar. Laporan terakhir menunjukkan bahwa klan tertentu telah dibujuk untuk mendorong pariwisata dengan mengabadikan mitos bahwa mereka masih merupakan praktek aktif.

Arsitektur panggung yang tinggi merupakan cirri khas dari rumah Korowai, jauh di atas terhindar dari banjir, Ketinggian dan ketebalan dari panggung merupakan kumpulan kayu besi , juga berfungsi untuk melindungi rumah dari serangan pembakaran di mana gubuk yang dibakar akan bisa membuat penghuninya cepat keluar. Bentuknya juga merupakan bentuk pertahanan dari serangan klan lain yang menangkap wanita dan anak-anak yang akan dijadikan budak atau korban kanibalisme.