10 Kawasan Kumuh yang Menjadi Kampung Asri,Kreatif dan Berbudaya

Permukiman kumuh dianggap sebagai bagian wilayah kota yang sangat tidak produktif, kotor, tidak memiliki potensi, tidak efisien dan mengganggu estetika serta keindahan, keberadaan pemukiman kumuh seringkali dianggap sebagai sumber timbulnya berbagai perilaku menyimpang, seperti kejahatan, dan sumber penyakit sosial lainnya.

Namun dibalik itu semua, coba kita lihat beberapa daerah yang awalnya pemukiman kumuh berubah menjadi tempat yang ramah lingkungan, bersih, dan asri.


1. Kampung kreatif, Kreativitas melukis



Dimotori oleh Perhimpunan Kampung Kreatif Indonesia, lingkungan khas pinggir kali yang kumuh diubah menjadi berwarna-warni oleh warga dengan melukis dinding di rumahnya sendiri.

“Semua berawal dari pendekatan ke warga yaitu dengan mendatangi warga yang diajak bicara dari hati ke hati dan menawarkan konsep kampong kreatif yang dilanjutkan dengan seorang seniman lukis yang pernah tinggal disana selama hampir 8 tahun dan menawarkan sebuah ide,” jelas Ki Suhardi, seniman senior yang paling giat membantu Perhimpunan Kampung Kreatif Indonesia.

Dengan penuh semangat warga berebut untuk melukis rumahnya sendiri. Apalagi bahan–bahan cat warna sudah disiapkan. Selain ingin membuat lingkungan menjadi lebih nyaman, semangat warga bancili disuntik tambahan bonus yang cukup menggiurkan.

“Yang mengikuti melukis rumahnya sendiri akan mendapatkan hadiah. Juara pertama mendapatkan nilai Rp 3.000.000,- juara ke dua Rp 2.000.000,- dan juara ke tiga Rp 1.000.000,”ucap pria berambut panjang penuh dengan uban ini.



2. Melestarikan Salak Condet




Perkebunan itu terletak cukup jauh dari Jalan Raya Condet. Beberapa warga Condet pun seringkali menggelengkan kepala setiap kali ditanya mengenai letak kebun tersebut. Padahal, di area seluas kurang lebih 3,5 hektar itu, tumbuh tanaman yang buahnya pernah mengharumkan nama Condet. Ya! Salak condet yang kini semakin sulit ditemukan di pasar-pasar tradisional, apalagi toko buah.

Adalah Komunitas Ciliwung Condet yang coba mempertahankan keberadaan kebun salak condet. Dibentuk pada 2005, komunitas itu memiliki misi melestarikan habitat terakhir flora dan fauna di bantaran Ciliwung Condet. “Beruntung di tengah himpitan pembangunan kota Jakarta, kami masih memiliki tanaman yang tumbuh di habitat aslinya,” kata Abdul Kodir, salah satu penggagas komunitas. “Apalagi condet juga termasuk dalam salah satu wilayah bersejarah di Jakarta.”

Condet memang memiliki tempat khusus dalam perjalanan sejarah Jakarta. Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, wilayah itu pernah menjadi semacam tempat singgah bagi para petinggi Belanda yang melakukan perjalanan ke Buitenzorg atau Bogor dengan kereta kuda. Pada zaman itu banyak vila berdiri di Condet, terutama di wilayah Kampung Gedong dan Tanjung Timur.



3. Kampung Lele, dari banjir Budidaya Lele




Produksi ikan lele dihasilkan dari lingkungan yang kerap banjir karena kesalahan tata kelola. Lingkungan jadi bersih dan masyarakat jadi mandiri.

Banjir itu memang jadi masalah di Jl. Kapuk Raya Swadaya III Rt. 006/02. Perlahan muka tanah dari tahun ke tahun mulai digenangi air. Menurut Andri Wahyudin, tokoh pemuda setempat, banjir melanda sejak 20 hingga 25 tahun yang lalu.

Genangan air berkumpul di kampung mereka. Kampung pun mulai menyesuaikan diri, hunian dibangun menjadi rumah panggung. “Bagi yang masih bertahan mereka membangun rumah panggung, yang tidak kuat bertahan lahan itu ditinggalkan,” lanjut Andri lagi.

Perlahan rumah yang ditinggalkan terendam air dan menjadi semacam danau-danau. “Dalam airnya sampai dua-tiga meteran.” jelas Andri.

Akhirnya danau itu menjadi tempat pembuangan sampah masyarakat. Kampung menjadi kumuh dan kotor. Melihat kondisi itu sekelompok anak muda tercetus untuk membersihkan genangan air dari sampah itu.

Pada tahun 2007 muncul ide membudidayakan lele di atas lahan yang tergenang itu. “Karena budidaya lele masyarakat tak membuang sampah ke dalam air lagi, ditampung di bak sampah di pinggir kolam. Ada warga yang nanti mengangkutnya” begitu jelas Andri.

Tahun pertama masih merugi, pada tahun 2009 mulailah keuntungan didapat. Mereka mulai menemukan formula yang tepat untuk membudidayakan ikan lele di atas genangan-genangan air itu. Yang mereka pilih adalah sistem jaring apung atau waring yang diperoleh dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).



4. Kampung Batik



Kampung kumuh yang kini jadi Kampung Batik di Jakarta. Diresmikan di penghujung 2011, perkampungan RW 04 di Jl Palbatu II Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet Jakarta Selatan saat ini dikenal sebagai kampung batik. Pemberian nama kampung batik berawal pada tahun 2011.

Adalah Ade Santoso seorang warga Palbatu II, yang tergerak hatinya melihat kondisi kampung yang jauh dari sifat bersih. Dari situ, dia terbesit untuk membuat sesuatu lebih bermakna. Maka terpikirlah sebuah ide untuk menghias tembok bangunan, dan sarana umum lainnya dengan batik.

"Berawal dari kesadaran dan kepedulian akan keberlangsungan budaya Indonesia, yaitu batik," kata Ade kepada wartawan di Jl Palbatu II Tebet Jakarta Selatan, Selasa (2/10).

Karena bersifat swadaya, kegiatan membatik di tembok bangunan terlaksana, juga karena mendapat dukungan dan bantuan dari salah satu perusahaan cat besar di Indonesia.



5. Kampung Jambangan, dari kumuh jadi kampung wisata



Wilayah kampung wisata Jambangan sebagian besar terdiri atas pemukiman, hanya sekitar 10 persennya saja yang dikelola untuk pertanian. Kampung ini sudah ada sejak lama, sekitar tahun 70an. Saat itu banyak masyarakat dari Surabaya dan Gresik berpindah ke tempat ini. Dulu kampung wisata Jambangan termasuk di luar Kota Surabaya, yaitu sudah masuk ke dalam wilayah Kabupaten Gresik. Sekitar tahun 1960an, wilayah ini bergabung dengan wilayah lain seperti Karangpilang, Wiyung, Tandes, dan Surabaya. Sejak penggabungan itu, semakin banyak masyarakat pindah ke tempat ini dan membuat pemukiman mereka sendiri.

Singkat cerita, jumlah pemukiman di tempat ini meningkat pesat dan dalam sekejap mata sudah penuh oleh penduduk. Namun sayangnya arus perpindahan tersebut tidak diikuti dengan penataan lingkungan yang baik. Alhasil, daerah di sepanjang kali Surabaya penuh oleh sampah dan kakus. Semakin banyak warga yang datang, semakin kumuh pula tempat tersebut. Hingga seorang warga yang kini telah wafat, Sriyatun Djupri, berinisiatif untuk mengajak warga menciptakan lingkungan kampung yang lebih bersih. Nah, dari situlah muncul sebuah kampung yang bersih dan tertata bernama kampung wisata Jambangan. Beliau berjuang bersama masyarakat dari sejak tahun 1973. Di dalam sosialisasi tersebut, beliau mencegah warga setempat untuk buang hajat di kali. Berkat usahanya yang keras tersebut, pemerintah menghadiahkan penghargaan kalpataru kepada beliau.

Usaha almarhun dilanjutkan oleh orang-orang yang juga serius membuat kampung wisata Jambangan lebih sehat dan tertata rapi. Pemandangan kampung yang bisa kita lihat saat ini sangat berbeda dengan kondisinya beberapa puluh tahun lalu.



6. Karangwaru, Keasrian di bantaran sungai



Program penataan lingkungan pemukiman berbasis masyarakat di Kelurahan Karangwaru, Tegalrejo, Yogyakarta telah berhasil mengubah wilayah kumuh di bantaran Kali Buntung menjadi tempat indah bersih dan enak untuk dikunjungi.

Wilayah kumuh di bantaran Kali Buntung Kelurahan Karangwaru Kecamatan Tegalrejo kini telah disulap menjadi Karangwaru Riverside. Program penataan lingkungan tersebut berasal dari anggaran program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) senilai Rp 1 miliar dari Kementrian Pekerjaan Umum (Kemen PU) RI.

Anggota Tim Pemasaran Karangwaru Riverside "Sae Saestu", Murtadho mengatakan, kawasan yang dipilih tersebut awalnya merupakan kawasan paling kumuh, dan terkenal angker. Setelah dilakukan penataan lingkungan dengan sistem partisipatif warga setempat kawasan tersebut berubah wajah menjadi bersih dan asri.

Setidaknya di kawasan sepanjang 126 meter tersebut kiri kanan sungai sudah ditata. Menurut Murtadho, proyek yang dikerjakan sejak 2011 itu di antaranya meliputi penataan lingkungan yakni dengan penguatan talud bronjong dengan kolom penyangga dan ringbalik, pembuatan jalan setapak di kiri kanan sungai, drainase, ruang terbuka hijau dan pembuatan septik komunal limbah domestik.


7. Margasari, Pemukiman di atas air



Pemukiman Atas Air Kelurahan Margasari Atau yang biasa disebut Kampung Air atau Kampung Nelayan ini, merupakan kawasan pesisir yang terletak di sebelah selatan wilayah Kelurahan Margasari serta berbatasan dengan buffer zone kilang minyak Pertamina UP.V Balikpapan.

Destinasi ini dapat dicapai dengan segala jenis kendaraan. Akan tetapi untuk memasuki kawasan seluas dua hektare tersebut, anda harus berjalan kaki.

Semula area ini adalah kawasan kumuh dan pada tahun 1992 kawasan tersebut tertimpa musibah kebakaran. Kemudian Pemerintah Balikpapan bersama-sama dengan Pertamina Refinery Unit V menyulap pedestrian tersebut menjadi kawasan yang lebih nyaman, serta menetapkan perkampungan yang berada di atas air ini sebagai salah satu lokasi wisata kawasan konservasi mangrove.

Selain menyediakan perumahan sehat bagi masyarakat, lokasi ini dilengkapi juga dengan kawasan wisata berupa deretan pedagang kuliner yang siap memanjakan lidah anda serta pondokan mini untuk para pengunjung yang ingin bersantai. Ketika sore hari, tampak jejeran pemancing yang menghabiskan senja di keheningan tepi laut mewarnai sepanjang jembatan ulin. Saat malam hari Anda dapat menikmati pemandangan api abadi obor Pertamina dan kelap kelip lampu kilang minyak.

Kawasan Kampung Air Margasari ini, bebas dikunjungi kapan saja, pagi, siang, sore atau bahkan mungkin malam hari.


8. Kampung Akustik Cicadas, Kesenian di pemukiman kumuh



Petikan gitar Ganjar Nur mengiringi launching Kampung Akustik Cicadas di Cicadas Pasar II RW 04 Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeunying Kidul, Sabtu (13/10). Sebuah kawasan yang dinilai kumuh berubah menjadi elok berkat hiasan mural di sepanjang gang, dan tentu saja, keahlian warganya memetik gitar. Kini, Cicadas yang dulu lumayan "menyeramkan" pun disulap menjadi sebuah kampung kreatif.

Keahlian memetik gitar ditunjukkan salah seorang penggagas Kampung Akustik Cicadas, Ganjar Nur. Membawakan lagu berjudul "Anak Anjing", Ganjar mengajak warga Cicadas Pasar II RW 04 untuk mengalirkan semangat kreativitas mereka. Mengubah kebiasaan hidup yang negatif ke arah positif.

Kampung Akustik Cicadas bisa menghilangkan citra buruk daerah itu sebagai tempat nongkrong anak muda di gang-gang sehingga sering disebut sebagai "gang seribu punten". "Rumusnya kreativitas, dan sekarang kita lihat warga Cicadas Pasar II RW 04 semua bergerak berlomba dengan kreativitasnya.



9. Flyover Antasari, Kolong jembatan yang asri



Sudah bukan rahasia umum kalau kolong jembatan di Jakarta menjadi pemukiman kumuh di Jakarta. Atau paling tidak menjadi tempat mangkal orang tak waras. Pemandangan dan keindahan kota pun terganggu. Lalu mesti bagaimana?

Mungkin satu yang patut dicatat yakni kolong jembatan flyover Antasari, Jaksel. Kawasan ini terlihat asri dan nyaman. Malah dibangun seperti taman, dengan tempat duduk dan beberapa tanaman.

"Mungkin karena di sini dekat dengan kantor wali kota Jaksel, jadi gelandangan pada nggak berani tinggal," jelas seorang warga Ading (50) yang ditemui detikcom, Senin (1/4/2013).

Kalau malam, di flyover ini pun ada lampu yang berkelap-kelip berganti warna. Kawasan kolong jembatan yang biasanya muram dan tak enak dilihat, menjadi lebih nyaman. Kawasan di sekitar kolong jembatan ini pun bersih. Di tengah jalan ada beberapa pot yang dipasang tanaman.


10. Kampung Karanganyar, bersih dan asri



Tak salah jika Kampung Karanganyar RW 16 Brontokusuman Mergangsan Yogyakarta dinobatkan sebagai juara pertama lomba Green and Clean tingkat DIY 2012. Sejak memasuki pintu gerbang kampung, suasana asri sudah terlihat. Tidak hanya itu, Kampung Karanganyar juga bersih dari sampah.

Keberhasilan RW 16 Brontokusuman ini tak lepas dari semangat warga dalam menjaga keamanan dan kenyamanan kampung. "Dulu, kampung sini merupakan kampung yang paling kumuh karena lokasinya paling rendah. Sekarang alhamdulillah sudah bisa berubah," ungkap Ketua RT 59 Karanganyar, Sofyan.

Kampung Karanganyar RW 16 Brontokusuman terdiri dari 3 RT, masing-masing RT 58, 59 dan 60 dengan populasi penduduk sekitar 312 orang. Sofyan menambahkan, dengan populasi warga yang cukup banyak, merubah kampung kumuh menjadi asri juga tidak mudah.

Beruntung, para tokoh masyarakat mulai dari Ketua RW 16, para Ketua RT serta pemuka agama setempat sepakat untuk memberikan contoh kepada warga dengan aksi nyata. Setiap kali ditemukan sampah yang berserakan di kampung, tokoh masyarakat tersebut memungut dan memindahkan ke tempat sampah.

”Sesungguhnya ALLAH tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Surat Ar-Ra’d: 11)


bilamana terdapat kesalahan, mohon diralat.

6 komentar

Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai batik indonesia.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetahui lebih jauh mengenai ilmu batik.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini

tertarik banget gan,saya jadi mempunyai inspirasi dari semua kampung yang tertera di atas,terimakasih banyak

makasih infonya sangat membantu.., jadi menggugah hati
ST3 Telkom

Semoga cepat disejahterakan dan menjadi lingkungan yang bersih
ST3 Telkom

mereka sangat kreatif namun mereka juga butuh lingkungan yang bersih dan tempat tinggal yang nyaman

Terima kasih telah berkunjung ke situs www.athba.net. Mari berpartisipasi untuk berbudaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk ajang diskusi, berbagi ilmu dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berkomentar. Jangan berkomentar out of topik. dilarang keras menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. DILARANG KERAS MEMASANG LINK HIDUP DI KOLOM KOMENTAR. Pengunjung yang baik adalah mereka yang selalu meninggalkan jejak komentar di setiap artikel tanpa spam.
EmoticonEmoticon