http://www.athba.net/
Athba.net | Matahari belum menunjukkan sinarnya. Namun, Ketrina Lotkeri sudah mulai beraktivitas. Dengan kantong di punggung serta kertas plastik di tangannya, janda 67 tahun itu meninggalkan rumah sederhananya yang berdiri di sebuah lorong bilangan Jalan Dr Kayadoe, kawasan Rumah Tingkat Kudamati, Kota Ambon.

Ibu berambut putih karena termakan usia itu memulai kesehariannya sebagai pemulung. Dipungutinya botol plastik bekas air mineral yang dibuang warga. Mulai keluar dari rumahnya itu, mata Ketrina hanya tertuju mencari botol-botol plastik bekas air mineral berbagai ukuran.

Tanpa alas kaki, ibu lima orang anak itu berjalan menyusuri setiap lorong hingga jalan raya dan permukiman warga. Semua tempat didatangi Ketrina, termasuk hingga ke Desa Batu Merah, Kota Ambon. Namun, kebanyakan, Ketrina memungut di pusat keramaian, seperti di terminal dan Pasar Mardika.

Terik matahari yang membakar tubuhnya tidak membuat Ketrina menyerah. Dengan hanya menutupi kepalanya dengan topi yang terlihat lusuh, dia tetap terlihat bersemangat.

Berbekal sepotong besi ditangannya, Ketrina memungut setiap botol yang ditemui di jalan sebelum dimasukkan ke karung plastik. Setelah penuh, dia pun memasukkannya ke keranjang yang dipikulnya itu.

Ketrina bukan tanpa sadar menjalani pekerjaan penuh risiko itu. Ia mungkin saja terjangkit penyakit dari sampah-sampah yang diangkutnya itu. Menurutnya, kekhawatiran itu pernah ia pikirkan saat awal-awal terjun sebagai pemulung. Seiring waktu berjalan, ternyata, kekhawatiran itu tidak terbukti.

Ia dan keluarganya hingga kini baik-baik saja, tidak terserang penyakit. "Kalau saya menyerah apa yang saya kerjakan bisa kena penyakit, saya dan anak-anak tidak bisa makan. Saya mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Apa pun bisa dilakukan, yang penting halal," tutur Ketrina.

Setelah hampir seharian memungut, sore harinya, ia baru pulang ke rumahnya dengan keranjang dan karung penuh berisi botol gelas bekas air mineral. Di rumah, Ketrina dibantu dua anaknya membersihkan lagi botol dan gelas plastik hingga siap dijual. Biasanya, setelah sebulan, baru Ketrina menjual hasil memungut tersebut ke tempat pembelian di kawasan Gunung Nona Ambon.

Menurutnya, dalam sebulan, ia bisa mendapat 200 hingga 300 kilogram plastik. Satu kilogram dijual seharga Rp 6.000. "Hasil yang saya peroleh tidak menentu, kadang-kadang kalau bagus sebulan dapat banyak, tergantung rezeki, " katanya.

Katrina gigih berjuang sebagai pemulung, tanpa kenal cuaca, panas, maupun hujan. Aktivitas tersebut ia lakukan tiap harinya, kecuali kalau kesehatannya terganggu. Ia mengaku terkadang punggung belakangnya sering kesakitan. Namun, karena tak cukup uang, ia tak sempat pergi ke rumah sakit. "Punggung saya sering kesakitan, mungkin karena sudah tua, tapi saya tidak pernah ke rumah sakit, hanya beli obat di jalanan saja," ujarnya.

Kegigihan dan ketangguhan Ketrina sebagai pemulung bukan tanpa sebab. Selain agar bisa bertahan hidup, menafkahi kehidupan keluarga, perempuan itu juga ternyata bisa menyekolahkan dua anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Dua anaknya ialah Herudia Lotkeri, saat ini tinggal diwisuda di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ambon, dan Natalia Lotkeri, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon.

Bagi Ketrina, anak-anaknya bagaikan mutiara sehingga ia tetap berjuang mencari uang agar mereka lulus mendapat gelar sarjana, sama seperti anak-anak lainnya. "Saya banting tulang, bekerja seperti ini agar anak-anak bisa jadi orang, paling tidak bisa jadi sarjana seperti orang lainnya, mereka kebanggaanku. Saya rela tidak makan yang penting mereka tetap kuliah," tutur Ketrina dengan mata berkaca-kaca.

Untuk menghemat biaya, Natalia harus indekos kamar di Poka dekat dengan kampusnya. Namun, setiap minggu, ia pulang ke rumah untuk membantu ibunya. Ketrina mengakui sering bertemu anak-anaknya saat memulung. Saat bertemu itu, mereka tidak pernah merasa malu kalau ibunya seorang pemulung.

"Anak-anak saya bangga kalau ibunya bisa mencari uang sendiri tidak bergantung orang lain. Meski menjadi pemulung, pekerjaan ini mulia dan yang penting halal," tuturnya.

Ketrina hidup menjanda sejak suaminya, Leonard Lotkeri, seorang petani di Maluku Tenggara, meninggal dunia di saat lima anaknya masih kecil. Sejak suaminya meninggal, ia harus menjadi kepala rumah tangga, membanting tulang menafkahi kehidupan keluarganya. Ia pun memilih merantau dari Maluku Tenggara ke Kota Ambon, 2006 silam.

Begitu tiba di Ambon, ia pun langsung menjadi pemulung. Ia mengakui bebannya sedikit ringan setelah dua anaknya menikah dan seorang lainnya tinggal bersama keluarganya di Maluku Tenggara.
loading...

Post a Comment